Renounce (If Gonna Happen) Midnight Intermesso'
Seorang berteriak..., Ayo Frans.., Awakmu sing dadi..(Maksudnya “kamu yang Jadi” dalam bahasa Jawa), Lah.. aku maneh ya rek..!!! tak itung sampek sepuloh, mari gak mari tak tekong (Lah.. aku lagi ya..!!! saya hitung sampai sepuluh, selesai ataupun tidak, kamu saya tangkap/ketemu).
Petak-Umpet,
itu yang kita lakukan sesekali di sore hari. Sanggar Permainan
Tradisional (SANG PERTRA) ini sengaja didirikan Mbah-Setyo (Alm.) 2004
silam. Mendapat gelar “Tradisioner Sejati” karena kepeduliannya terhadap
budaya Nusantara, beliau juga Alumni ISI Yogyakarta Angkatan 1977.
Jenaka, Imaginator, Rambut Gimbal, juga Kacamata bundar khas mendiang
Panglima Polim.
Berada di Areal ini, hukumnya wajib berbahasa daerah.
Ahli Bahasa Daerah dari Sabang sampai Merauke sengaja kita datangkan.
Pendampingan dengan Pakaian Adat, juga disesuaikan dengan daerah
pengunjung yang hadir. Akhir Minggu tak pernah sepi dari pengunjung.
“KALA
BERBUDAYA, ESOK, SAMPAI NANTI” merupakan motto SANG PERTRA. Terpampang
di Pintu Masuk yang dibuat dengan Akar Cantigi dan ditempel di Sebilah
Kayu Cemara. Perabotan pendukung seperti Kursi, Meja, Jendela, Pintu,
maupun penempelan Lukisan, sengaja dikemas tanpa Sebutir Paku-pun.
Bakiak (Terompah Kayu) tertata rapi di Rak sesuai dengan pengunjung yang
berniat berkunjung disini.
Perombakan
letak dan Jenis Permainan di SANG PERTRA selalu dilakukan 4bulan
sekali. CATUR-WULAN SANG PERTRA menjadi Ending dari Finishing Perombakan
tersebut. Penampilan Permainan dari masing-masing daerah, dan bahasa
sehari-hari yang juga digunakan untuk berkomunikasi dengan penonton yang
mengunjungi kegiatan tersebut. Keberadaan lampu dimalam hari,
digantikan oleh Obor-Obor yang tertancap di tiap-tiap sudut lokasi.
Menghipnotis
diri melalui Kebudayaan Negeri kita sesekali memang perlu dilakukan
sebagai pemikat cinta kita terhadap Budaya Indonesia yang semakin
digerogoti oleh kemodernisasian.
“Blackened-0261-7,12th”